Tantangan Perusahaan Menghadapi Tren WFH

Pandemi Covid-19 yang mulai marak sejak awal tahun lalu hingga saat ini masih dialami oleh hampir seluruh negara termasuk Indonesia. Akibatnya, banyak masyarakat yang terkena dampak dari adanya Covid-19.

Salah satu dampak besar yang dirasakan adalah sebagian besar masyarakat harus menjalani work from home (WFH) alias bekerja dari rumah. Kebijakan bekerja dari rumah ini dikeluarkan oleh pemerintah dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Namun, ternyata tren bekerja dari rumah ini cukup berhasil dijalani oleh sebagian besar perusahaan. Keberhasilan WFH selama masa pandemi ini membuka kemungkinan perusahaan meneruskan kebijakan WFH secara permanen. Sebab, hal ini memungkinkan perusahaan mempekerjakan orang tanpa batasan lokasi.

 Melihat fenomena baru ini, Pintaria beberapa waktu lalu melangsungkan Pintaria Leaders” Talk Vol. 1 bersama Aloysius Budi Santoso selaku Chief Corporate Human Capital Development PT Astra International, Tbk, Prof. Jang Youn Cho selaku Ph.D, Rektor Cyber Asia University, dan Dr. Gerald Ariff selaku moderator untuk membahas hal tersebut lebih mendalam.

Baca juga: Tantangan dan Mitos Menjalani Kerja Freelance

Menurut Prof. Cho, dengan kebiasaan baru bekerja dari rumah artinya para pekerja tidak perlu lagi datang ke kantor untuk  mendapatkan data dan informasi. Karena semuanya bisa didapatkan melalui teknologi. Selain itu, ia pun berpendapat bahwa sudah saatnya perusahaan-perusahaan bersaing dengan negara lainnya.

“Sebagai perusahaan, baik perusahaan yang menyajikan online degree atau online services tidak bisa lagi cukup satisfied menjadi nomor 1 di negaranya. Tetapi kita juga harus mulai compete dengan global leader yang lain,jelasnya lebih lanjut.

 Meskipun begitu, ada beberapa sektor yang tidak mungkin diberlakukan remote working atau WFH seperti perusahaan manufakturing dan agrikultur.

Dalam menyikapi hal ini, Aloysius  menjelaskan bahwa memang mungkin akan ada pergeseran tren. Terutama untuk pekerjaan-pekerjaan yang services, konsultasi, yang (berbasis) layanan, itu mungkin terjadi pergeseran tren. Tapi di beberapa tempat dan industri yang lain, tren tersebut tidak akan terlalu bergeser. Karena menurutnya memang pekerjaannya mengharuskan karyawannya untuk bekerja di lokasi.

“Tidak mungkin kan orang membetulkan mobil secara WFH,” katanya sebagi bentuk contoh bahwa WFH tidak bisa digunakan untuk segala pekerjaan.

Namun, meski pun tidak semua industri bisa memberlakukan sistem WFH, Aloysius berpendapat bahwa perusahaan harus tetap mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri. Karena pada dasarnya pada dasarnya, driver dari revolusi industri 4.0 dan future of work itu adalah teknologi.

Dan sekarang dalam kondisi pandemi, masyarakat dipaksa untuk suka tidak suka menggunakan teknologi untuk bisa melakukan berbagai macam aktivitas. Sehingga masyarakat harus memiliki beberapa skill yang penting untuk menyiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja. Diantaranya seperti kreatifitas, analitical skill, komunikasi, networking, serta fleksibel dan bisa beradaptasi.

 

Leave a Comment

Pintaria Blog
Upgrade Dirimu Sekarang!
No any image found. Please check it again or try with another instagram account.