Pada mulanya, elemen musik Pop muncul di Korea sebagai respon dari masuknya aliran Pop Jepang di sekitar dekade 1930-an. Namun, akibat tekanan perang, keadaan ekonomi yang morat-marit, serta krisis global pasca Perang Dunia ke-2, musik ini tak pernah berkembang maksimal, ibarat telur ayam yang tak sempat dierami.

Bukannya membaik, di masa-masa berikutnya Korea justru sibuk berperang dengan saudara kandungnya sendiri; Antara tahun 1950-53 Korea Utara dengan sekutunya Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet, berperang melawan Korea Selatan dengan sekutunya Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Inggris.

Sontak, perang itu membuat Korea miskin dan citra publiknya buruk. Setelah perang berakhir, pemerintahan yang silih berganti di Korea Selatan terbukti tak sanggup memperbaiki keadaan. Beruntung, rezim kekuasaan yang otoriter ini tak berumur terlalu panjang. Tahun 1988, Olimpiade Seoul digelar di Korea Selatan. Perhelatan besar ini seakan membuka mata masyarakat akan pentingnya iklim Kapitalisme yang berorientasi pada pasar.

Pemerintah mulai fleksibel dengan mengendorkan aturan-aturan yang mengikat. Salah satu yang paling berpengaruh adalah longgarnya kebijakan sensor media. Menanggapi fenomena itulah, pada tahun 1989, salah satu tokoh utama industry K-Pop, Lee Soo-Man mendirikan SM Studio di Gangnam, Seoul.

SM Studio ternyata bukan hanya mendatangkan keuntungan finansial. Investasi cerdas ini secara langsung mengantarkan K-Pop ke sorotan media internasional. Akan tetapi, kiprah Lee-Soo Man tak mulus-mulus amat. Sampai tengah dekade 1990-an, berbagai kendala teknis dan non-teknis tak pernah jauh dari SM Studio. Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana membuat orang terbiasa mendengarkan alunan musik dengan Bahasa Korea. Untuk meretas berbagai permasalahan itu, ia Mereformasi SM Studio menjadi SM Entertainment.

Maka dimulailah suatu era baru dalam musik K-Pop. SM Entertainment yang dibentuk tahun 1996 menjadi awal mula berkibarnya grup-grup dan kelompok musik yang pada akhirnya jadi salah satu tren paling luas pengaruhnya di seluruh Asia.

Seiring dengan makin meluasnya penggunaan internet, pengaruh musik K-Pop ini jadi semakin luas lagi. Untuk urusan Bahasa tadi, misalnya, penikmat musik tak perlu repot lagi karena internet menghadirkan begitu banyak pilihan sarana belajar yang mudah dan menyenangkan.

Sementara itu, karena begitu besarnya antusiasme publik Indonesia, platform belajar Bahasa Korea bahkan menawarkan kualitas yang terbaik, namun dengan harga yang sangat terjangkau. Nah di era modern ini, Pintarian bisa lho dengan mudah belajar Bahasa Korea kapanpun dan di manapun. Mau menikmati keseruan K-Pop dengan maksimal? Yuk kursus online Bahasa Korea di Pintaria, klik di sini ya buat daftar kursus onlinenya.

Sumber:      https://tirto.id/legenda-di-balik-penciptaan-k-pop-ctX4

http://www.moonrok.com/history-k-pop-chapter-4-how-lee-soo-mans-first-big-fail-resulted-koreas-modern-pop-star/

https://www.atmago.com/posts/sejarah-k-pop-masuk-ke-indonesia_post_id_1f2fe927-4438-4e8f-9b5c-36b5b73ce2ff